Persegi Tanpa Sebuah Sisi
Malam itu tak ada angin tak ada hujan, tapi begitu mengejutkanku. Dia
datang ke rumahku seorang diri, aku bingung. Apa yang dia lakukan
malam-malam ke rumahku? Ternyata dia hanya mengembalikan boneka yang
pernah aku kasih sebagai hadiah ulang tahunnya, saat itu dia tidak
berkata panjang lebar. Aku tidak bisa berkata apa-apa, mata ku terasa
panas. Hatiku terasa tertusuk, tanpa aku iinginkan air mataku tak bisa
terbendung lagi. Dia berlalu tanpa menoleh padaku, aku masih terdiam dan
menangis di depan rumahku. Aku memasuki rumah dan bergegas ke kamar.
Aku menangis sejadi-jadinya. Saat itu juga aku langsung mengambil
ponselku, dan mengirim pesan singkat pada sahabatku.
To: Sania
Barusan Siska ke rumah!! Aku bingung! Aku gak bisa nahan buat gak nangis! Sakit San sakit!!
Aku terus merenungi dan mencerna kejadian tadi, air mataku seperti tak
pernah habis. Aku menangis sampai aku terlelap, "Kenapa semuanya jadi
kayak gini?" batinku. Beberapa hari selanjutnya, aku sering melamun dan
selalu teringat kejadian itu. Aku ingin meluapkan semuanya di hadapan
dia, tapi setelah beberapa kali aku datang ke rumahnya selalu aja tidak
ada yang membukakan pintu. Padahal aku tahu dia ada di dalam rumah.
"San, aku kepikiran terus. Aku jadi gak konsen belajar, sampai sekarang
kepikiran terus." ucapku saat bertemu Sania di sekolah. Aku dan Sania
memang satu sekolah, dan kami beda sekolah dengan Siska dan Amel
sahabatku. "Sama aku juga, tapi ya gimana lagi. Kita gak tahu masalahnya
apa. Udah deh gak usah dipikirin mulu!" jawabnya lirih.
"Aku juga gak mau nginget terus, tapi keinget mulu. Lagi belajar aja kepikiran. Amel gimana? Dia enak gak ngerasain apa yang kita rasain, coba rumah dia gak jauh, pasti didatengin juga. hehe" jawabku. "Eh, Rik aku ke kelas dulu ya!" ucapnya sambil berlalu ketika mendengar suara bel tanda masuk.
***
From: Amel
Sumpah aku nyesek banget, aku barusan sms dia. She said 'can't you stop
bugging me? Just leave this shit! And, think that we never met.'
Nyeseeeeeeeek!!!!
Ketika aku membaca pesan itu, hatiku terenyuh. Lagi-lagi mataku terasa
panas, lalu aku langsung menelfon Amel saat itu juga. "Halo,
assalamu'alaikum." suara gadis dari seberang terdengar. "Mel, maksud
kamu apa? Gimana pertamanya? Kenapa bisa sampe kayak gitu? Ceritain dari
awal, tapi tunggu aku sambungin dulu ke Sania." cerocos aku, mataku
terasa semakin memanas. Air mataku semakin tak terbendung, tapi aku
mencoba untuk tidak menangis.
"Halo, apa?" Sania memulai pembicaraan, dan aku langsung menyambungkan pada Amel.
"Cepetan cerita Mel, sekarang Sania udah terhubung." timpalku.
"Jadi gini, aku iseng sms dia. Ya niatnya cuma pengen minta penjelasan
aja sama dia tapi aku gak nyangka dia bakal bales gitu. Rik, San aku gak
kuat." tutur menjelaskan Amel.
"Trus?" tanyaku seolah belum puas dengan penjelasan Amel, dan butiran air mataku pun akhirnya jatuh.
"Ya, gitu dia bilang mungkin kita udah gak ada di list kehidupan dia lagi."
"Sebenernya dia kenapa sih? Ko bisa sampe kayak gitu? Aku masih bingung sama tingkah dia." Sania ikut nyerocos.
"Gak tau deh, bingung aku. Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi, udah sakit banget!"
"Iya ..."
" ... "
"Eh, udah dulu ya pulsa aku abis." aku segera mematikan ponselku.
Aku diam membisu, hanya menangis yang bisa kulakukan saat itu. Aku
kecewa sama sikap Siska, aku bingung sama maksud sikap dia. Kalau memang
dia nggak nyaman gabung sama kita kenapa baru sekarang, kenapa gak dari
dulu?! Aku gak mau kayak gini! "Ka... Kenapa kamu kayak gini?" batinku.
Aku terbangun dari lamunanku, dan aku langsung berfikir untuk mengambil
whudu dan shalat. Dan, aku sadar mungkin ini sudah menjadi takdir untuk
kita berempat. Dan aku, Sania, dan Amel memutuskan untuk memulai
semuanya dari awal lagi walau hanya bertiga. Walaupun kami kehilangan
satu orang yang menjadi bagian pelengkap hidup kami, walaupun kami
kehilangan satu sisi dalam sebuah kotak tapi kami tetap akan bersahabat.
***the end***