Sabtu, 30 Maret 2013

Persegi Tanpa Sebuah Sisi

Malam itu tak ada angin tak ada hujan, tapi begitu mengejutkanku. Dia datang ke rumahku seorang diri, aku bingung. Apa yang dia lakukan malam-malam ke rumahku? Ternyata dia hanya mengembalikan boneka yang pernah aku kasih sebagai hadiah ulang tahunnya, saat itu dia tidak berkata panjang lebar. Aku tidak bisa berkata apa-apa, mata ku terasa panas. Hatiku terasa tertusuk, tanpa aku iinginkan air mataku tak bisa terbendung lagi. Dia berlalu tanpa menoleh padaku, aku masih terdiam dan menangis di depan rumahku. Aku memasuki rumah dan bergegas ke kamar. Aku menangis sejadi-jadinya. Saat itu juga aku langsung mengambil ponselku, dan mengirim pesan singkat pada sahabatku.

To: Sania

Barusan Siska ke rumah!! Aku bingung! Aku gak bisa nahan buat gak nangis! Sakit San sakit!!

Aku terus merenungi dan mencerna kejadian tadi, air mataku seperti tak pernah habis. Aku menangis sampai aku terlelap, "Kenapa semuanya jadi kayak gini?" batinku. Beberapa hari selanjutnya, aku sering melamun dan selalu teringat kejadian itu. Aku ingin meluapkan semuanya di hadapan dia, tapi setelah beberapa kali aku datang ke rumahnya selalu aja tidak ada yang membukakan pintu. Padahal aku tahu dia ada di dalam rumah.
"San, aku kepikiran terus. Aku jadi gak konsen belajar, sampai sekarang kepikiran terus." ucapku saat bertemu Sania di sekolah. Aku dan Sania memang satu sekolah, dan kami beda sekolah dengan Siska dan Amel sahabatku. "Sama aku juga, tapi ya gimana lagi. Kita gak tahu masalahnya apa. Udah deh gak usah dipikirin mulu!" jawabnya lirih. 

"Aku juga gak mau nginget terus, tapi keinget mulu. Lagi belajar aja kepikiran. Amel gimana? Dia enak gak ngerasain apa yang kita rasain, coba rumah dia gak jauh, pasti didatengin juga. hehe" jawabku. "Eh, Rik aku ke kelas dulu ya!" ucapnya sambil berlalu ketika mendengar suara bel tanda masuk. 

***
From: Amel
Sumpah aku nyesek banget, aku barusan sms dia. She said 'can't you stop bugging me? Just leave this shit! And, think that we never met.' Nyeseeeeeeeek!!!!
Ketika aku membaca pesan itu, hatiku terenyuh. Lagi-lagi mataku terasa panas, lalu aku langsung menelfon Amel saat itu juga. "Halo, assalamu'alaikum." suara gadis dari seberang terdengar. "Mel, maksud kamu apa? Gimana pertamanya? Kenapa bisa sampe kayak gitu? Ceritain dari awal, tapi tunggu aku sambungin dulu ke Sania." cerocos aku, mataku terasa semakin memanas. Air mataku semakin tak terbendung, tapi aku mencoba untuk tidak menangis.
"Halo, apa?" Sania memulai pembicaraan, dan aku langsung menyambungkan pada Amel.
"Cepetan cerita Mel, sekarang Sania udah terhubung." timpalku.
"Jadi gini, aku iseng sms dia. Ya niatnya cuma pengen minta penjelasan aja sama dia tapi aku gak nyangka dia bakal bales gitu. Rik, San aku gak kuat." tutur menjelaskan Amel.
"Trus?" tanyaku seolah belum puas dengan penjelasan Amel, dan butiran air mataku pun akhirnya jatuh.
"Ya, gitu dia bilang mungkin kita udah gak ada di list kehidupan dia lagi."
"Sebenernya dia kenapa sih? Ko bisa sampe kayak gitu? Aku masih bingung sama tingkah dia." Sania ikut nyerocos.
"Gak tau deh, bingung aku. Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi, udah sakit banget!"
"Iya ..."
" ... "
"Eh, udah dulu ya pulsa aku abis." aku segera mematikan ponselku.
Aku diam membisu, hanya menangis yang bisa kulakukan saat itu. Aku kecewa sama sikap Siska, aku bingung sama maksud sikap dia. Kalau memang dia nggak nyaman gabung sama kita kenapa baru sekarang, kenapa gak dari dulu?! Aku gak mau kayak gini! "Ka... Kenapa kamu kayak gini?" batinku. Aku terbangun dari lamunanku, dan aku langsung berfikir untuk mengambil whudu dan shalat. Dan, aku sadar mungkin ini sudah menjadi takdir untuk kita berempat. Dan aku, Sania, dan Amel memutuskan untuk memulai semuanya dari awal lagi walau hanya bertiga. Walaupun kami kehilangan satu orang yang menjadi bagian pelengkap hidup kami, walaupun kami kehilangan satu sisi dalam sebuah kotak tapi kami tetap akan bersahabat.

***the end***